Mazda CX-8 Tujuh Penumpang Sudah Bisa Dipesan

  • Dilihat: 80 kali
Mazda CX-8 Tujuh Penumpang Sudah Bisa Dipesan

Setelah lama menggoda dengan tampilan ekterior dan sketsa interior, Mazda CX-8 tujuh penumpang resmi meluncur di Jepang. SUV ini hadir sebagai penantang Honda CR-V, sekaligus menjadi model pamungkas Mazda tahun ini.

Tampang CX-8 sedikit mirip dengan CX-5, terutama sektor depan. Memiliki daya tampung penumpang yang lebih besar, CX-8 dibekali dengan dimensi panjang 4.900 mm, lebar 1.840 mm, dan tinggi 1.730 mm.

Dikutip ari Motor1, bangku baris ketiga diklaim mampu menampung orang dewasa dengan tinggi 170 cm. Bahkan masih ada ruang untuk penyimpanan barang berkapasitas 239 liter, bila baris ketiga dilipat kapasitas ruang kargo bertambah hingga 572 liter.

Soal performa, CX-8 ditunjang dengan mesin 2.200 cc turbodiesel yang mampu memgeluarkan tenaga sebesar 188 tk dan torsi 450 Nm melalui transmisi enam percepatan otomatis. Meski memiliki torsi yang besar, tapi saluran tenaga dibuat lembut berkat fitur G-Vektor yang mengendalikan torsi dari mesin.

Interior Mazda CX-8

Sebagai pilihan, Mazda CX-8 ditawarkan dalam dua pilihan model, yakni XD FWD dan XD L AWD, yang dipasarkan mulai dari Rp 384 juta hingga Rp 503 jutaan di Jepang. Meski sudah dirilis, namun penjualan resmi baru akan dimulai pada 14 Desember 2017 dengan target 1.200 unit per bulan.

Masuk Indonesia

Seperti diketahui, CX-8 tujuh penumpang dibuat khusus untuk pasar domestik di Jepang, bahkan besar kemungkinan model ini tidak akan dipasarkan di negara lain. Namun dalam pameran otomotif nasional Agustus lalu, PT Eurokars Mazda Indonesia (EMI) berjanji akan segera memboyong SUV tujuh penumpang itu ke Tanah Air.

”Rencana mungkin akhir tahun depan, atau awal 2019 baru bisa masuk. Secepat mungkin, kalau bisa sebelum itu lebih baik,” kata Roy Arman Arfandy, Presiden Direktur EMI.

Mazda CX-8 sudah bisa dipesan

Roy mengakui CX-8 memiliki peluang bagus di Indonesia dengan akomodasi tujuh penumpang. Tapi dari sisi spesifikasi ada kendala dari mesin karena yang diproduksi di Jepang fokus pada diesel dengan standar emisi yang tinggi sehingga tidak cocok di Indonesia.

"Sebenarnya alokasi untuk Indonesia sudah kami minta, cuma memang tahap produksi yang diesel diprioritaskan dulu. Jadi kita harus menunggu,” ujar Roy.

Top